Kisah Misteri di Balik Hilangnya Hidung Pada Patung Mesir Kuno


Di negara Mesir ada sesuatu hal yang unik, jika kita memperhatikan patung-patung yang dibangun pada zaman Mesir Kuno. Dimana hampir seluruh patung tersebut kehilangan satu buah organ yang sama , yaitu hidung.

Banyak orang juga yang akhirnya mempertanyakan hal-hal aneh ini. Mengapa sebenarnya yang terjadi pada patung-patung zaman Mesir Kuno, kenapa patung-patung tersebut harus kehilangan organ hidung-nya yang terlihat seperti dirusak paksa? Apa ada kisah dibalik misteri unik ini? Pertanyaan inipun sering diterima oleh curator Museum Brooklyn di kota New York, Amerika Serikat, Edward Bleiberg. Akibatnya, Bleiberg melakukan sebuah penelitian ilmiah ihwal kejadian unik tersebut.

“Kerusakan yang konsisten pada patung ini menunjukkan bahwa adanya sesuatu yang memiliki tujuan tertentu,” ucap kata Bleiberg.

Pada patung Bust of Roman Nobleman, ini telah diperkirakan dibuat pada tahun 30 SM hingga 50 Masehi, dimana adanya kehilangan bagian pada hidung. Hasil penelitian tersebut akhirnya juga dikemas dan dipamerkan dalam sebuah pameran besar yang bertajuk “Striking Power: Iconoclasm in Ancient Egypt” pada sebuah kota New York.

Dimana Bleiberg sendiri juga berpendapat, bahwa masyarakat Mesir Kuno sendiri percaya bahwa patung, relief, serta gambar ikon lainnya berisikan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal atau esensi dari dewa mereka. Benda-benda ini juga diibaratkan sebagai portal penghubung antara dunia nyata dengan dunia supernatural, yang membutuhkan ritual agar benda ini bisa dirasuki roh tertentu.

Mayoritas patung, relief, serta gambar ikon yang tersimpan di makam dan juga kuil. Pada awalnya, keturunan dari orang yang sudah meninggal memberi “makan” leluhurnya dengan hadiah, perhiasan atau makanan sungguhan. Lalu, manusia sendiri mulai mengirim persembahan kepada dewa dengan harapan mereka untuk memperoleh perlindungan dari dewa yang disembah.

Kepercayaan ini sendiri diyakini memberikan kekuatan kepada benda berhala tersebut. Salah satu cara yang dilakukan untuk bisa menghilangkan kekuatannya, adalah bertindak vandalisme dengan merusak patung atau relief tersebut.

Patung Sphinx merupakan sebuah simbol kekuasaan raja Mesir Kuno yang kehilangan bagian hidung. Bleiberg juga mengatakan bahwa “Bagian tubuh yang rusak tidak dapat lagi melakukan tugasnya, menjaga leluhur yang masih hidup di bumi.”

Patung tanpa telinga, tersebut membuat ia tidak dapat mendengar lagi penyembahnya. Patung tanpa tangan, pun membuat ia tidak bisa menerima lagi persembahan. Sedangkan untuk patung tanpa hidung, membuat ia tidak dapat lagi bernapas.

Hal ini dinilai efektif “membunuh” benda berhala tersebut. Para penjarah makam, kata Bleiberg, mungkin memotong salah satu bagian benda berhala yang bernilai itu untuk mencegah dirinya menerima kutukan atau balas dendam.

Mesir Kuno juga memiliki sejarah panjang soal perusakan seni yang mencitrakan sebuah manusia. Pada zaman prasejarah, misalnya, banyak mumi yang secara sengaja dirusak.

Ada juga hieroglif yang menawarkan bahwa instruksi mencakup pembakaran patung lilin untuk para prajurit yang berangkat perang dan surat keputusan Firaun yang mengancam akan penghukuman bagi mereka yang bertindak di luar batas, seperti menghancurkan patung yang menyerupai mereka.

Dan saat agama Kristen datang, patung, relief, serta ikon dewa Mesir Kuno lainnya juga dirusak untuk mencegah setan-setan Pagan bangkit kembali.

“Pencitraan di ruang publik tersebut adalah sebuah cerminan siapa yang memiliki kekuatan untuk menceritakan kisah tentang apa yang terjadi dan apa yang harus diingat,” ucap Bleiberg.