Mesir Menghimbau Melakukan Tunda Kehamilan di Tengah Pandemi Covid-19

Mesir Menghimbau Melakukan Tunda Kehamilan di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 ini masih belum selesai melanda seluruh negara di berbagai belahan penjuru dunia yang ada. Wabah corona virus ini sungguh meresahkan banyak pihak, sehingga aktivitas menjadi terganggu dan terjadinya banyak penundaan penggelaran berbagai event-event besar yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Corona virus ini bergerak dari negara ke setiap negara, dari kota ke setiap kota, daerah ke setiap daerah yang ada. Hal ini karena masih adanya pergerakan manusia yang sudah terjangkit virus corona menyebar ke berbagai lokasi yang didatangkan. Berbagai pemerintah di berbagai negara juga telah memikirkan cara agar adanay pemutusan rantai wabah corona virus ini.

Salah satunya sama seperti dengan Kementerian Kesehatan di negara Mesir yang menghimbaukan untuk seluruh pasangan suami istri untuk dapat menunda kehamilan selama pandemi wabah Covid-19 ini. Menurutnya, melalui program penundaan kehamilan ini merupakan suatu ajakan yang dapat mencegah penyebaran Covid-19.

Berdasarkan penemuan dan penelitian baru, bahwa virus dapat memasuki gumpalan darah sehingga dapat mempengaruhi plasenta dan nutrisi janin. Pernyataan itu menyatakan bahwa kehamilan dapat menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh secara tidak langsung, sehingga membuat perempuan yang hamil rentan terhadap terjangkitnya virus.

“Alat kontrasepsi ini dapat digunakan sementara waktu untuk mencegah kehamilan,” kata Kementerian Kesehatan Mesir yang dilansir dari Arab News, pada Selasa, 30 Juni 2020 ini.

Kementerian kesehatan juga menganjurkan pentingnya para perempuan untuk tetap aktif, santai, serta beristirahat selama kehamilan. Jalan-jalan dianggap sebagai bentuk latihan terbaik untuk perempuan hamil, tetapi selama penyebaran virus corona hanya boleh meninggalkan rumah untuk keperluan penting.

Kementerian kesehatan juga menjelaskan bahwa unit kesehatan menyediakan berbagai metode pengendalian kelahiran, termasuk kapsul Implanon, metode jangka panjang yang berlangsung selama tiga tahun. Kapsul ini dapat ditanamkan dengan mudah dan tanpa prosedur bedah oleh dokter spesialis dalam waktu kurang dari tiga menit. Kementerian kesehatan juga menegaskan bahwa kapsul itu cocok untuk sebagian besar perempuan serta ibu menyusui, dan dijual seharga lima pound Mesir atau setara dengan 4.400 rupiah.

Dokter Mesir Zainab Abdel-Meguid mendukung dan membenarkan himbauan Kementerian Kesehatan untuk menunda kehamilan. Tetapi, kata dia, seharusnya himbauan itu dikeluarkan sebelumnya virus tersebut menyebar luas di Mesir.

Pegawai pemerintah Wagida Abdel-Latif ini mengatakan bahwa pengumuman pemerintah itu penting karena sistem perawatan kesehatan negara Mesir yang sudah kewalahan, lelah, serta ketidakmampuannya mengakomodasi pasien yang menderita virus corona.

Mervat Abdel-Karim, tidak setuju dengan keputusan Kementerian Kesehatan. Pasalnya, karena dirinya baru saja menikah dan ingin segera menjadi seorang ibu begitu juga dengan suaminya yang ingin segera menjadi seorang ayah.

Ibu rumah tangga, Gamila Saeed selama 14 tahun belum dikaruniahi anak. Sekarang ia tengah mengandung dan mengaku sangat khawatir dan tidak ingin kehilangan janinnya apalagi karena virus.

Direktur Rumah Sakit dari Al-Sinbillawain, Mohamed El-Surugi, menjelaskan bahwa wanita hamil yang terinfeksi Covid-19 harus dalam perawatan intensif. Bahkan jika kondisi pasien stabil, mereka tetap dalam pemantauan apalagi jika pasien mendekati tanggal melahirkan.

El-Surugi mengatakan bahwa persalinan seharusnya dilakukan dengan operasi caesar karena mengingat kondisi calon ibu dan janin. Tetapi tidak sedikit juga pasien merasakan mules sebelum operasi caesar yang dijadwalkan, sehingga tim medis melakukan operasi lebih awal dari yang diharapkan.

Sebelum melahirkan, tes diambil dari perempuan tersebut untuk menguji virus. Selama operasi, langkah-langkah pencegahan itupun diambil untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi.