Mesir & Sudan Khawatir Terjadi Krisis Air Bersih Akibat Pengisian Bendungan GERD


Pada Senin, 27 Juli 2020, negara Mesir dan Sudan telah mengkritik Ethiopia atas pengisian bendungan Nil Biru, Grand Ethiopia Renaissance Dam (GERD), secara sepihak untuk mengatur aliran air dari proyek besar. Sudan dan Mesir sama-sama khawatir akan bendungan pembangkit listrik tenaga air yang harganya senilai 4 miliar dollar AS atau setara dengaan 58,3 triliun rupiah di Nil Biru yang dapat menyebabkan kekurangan air di negara mereka. 

Nil Biru merupakan salah satu anak sungai Nil, yang di mana telah terdapat 100 juta orang negara Mesir yang akan memperoleh 90 persen pasokan air bersih dari sana. Hampir satu dekade negosiasi panjang telah gagal menghasilkan kesepakatan untuk dapat mengatur bagaimana Ethiopia akan mengisi reservoir dan mengoperasikan bendungan dengan tetap melindungi ketersediaan air bersih di negara Mesir yang telah langka. Bendungan GERD kini sedang dibangun dan berada di sekitar 15 kilometer dari perbatasan dengan Sudan.

Pekan lalu, Ethiopia mengatakan mereka akan memerlukan bendungan untuk dapat menghasilkan pembangkit listrik bagi rakyatnya dan saat ini telah mencapai target tahun pertama untuk mengisi reservoir, berkat musim hujan yang deras. Kementerian Irigasi negara Mesir mengatakan, Mesir dan Sudan menyayangkan tentang “pengisian sepihak” bendungan Nil Biru, yang mereka katakan “membayangi pertemuan itu dan mengajukan banyak pertanyaan tentang kelayakan proses negosiasi yang terjadi untuk mencapai kesepakatan yang adil.” Sudan mengatakan tindakan Ethiopia adalah “preseden yang berbahaya dan mengganggu dalam proses kerja sama antara negara-negara yang bersangkutan”, menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Irigasi.

Sementara itu, tidak ada tanggapan langsung dari Ethiopia mengenai pernyataan tersebut. Di antara masalah yang diperdebatkan dalam diskusi, yang dimediasi oleh Uni Afrika, adalah bagaimana bendungan dapat beroperasi selama “tahun-tahun kering” berkurangnya curah hujan, dan apakah perjanjian dan mekanisme untuk menyelesaikan sengketa harus mengikat secara hukum. Berdasarkan kesepakatan pada tahun 1929 dan tahun 1959 yang ditekan antara Britania Raya sebagai kekuatan kolonial dan negara-negara di lembah Sungai Nil, negara Mesir berhak memperoleh sekitar 55,5 miliar cm kubik air dari salah satu sungai terpanjang di dunia tersebut. Sementara itu Sudan akan mendapatkan bagian sekitar 18,5 miliar cm kubik, sedangkan Ethiopia tidak kebagian satu cm kubik pun.

Pada Mei 2010, lima negara hulu akan menandatangani perjanjian Cooperative Framework Agreement untuk dapat memperoleh bagian lebih besar. Ethiopia, Kenya, Uganda, Rwanda, dan Tanzania adalah 5 negara pertama yang menekan perjanjian tersebut, lalu disusul Burundi pada tahun 2011. Sungai Nil sendiri telah mengaliri sekitar sebelas negara di Afrika, yaitu Mesir, Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, Tanzania, Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Eritrea, dan Sudan Selatan. Bendungan GERD sudah dibangun sejak tahun 2011, dan Duta Besa Ethiopia untuk Indonesia Admasu Tsegaye Agidew mengklaim bangunan pengendali air ini aman digunakan.

Dubes Admasu menerangkan, Bendungan GERD dapat menghasilkan 6.450 megawatt dan mampu menampung sekitar 74 juta cm kubik air. Nantinya, Bendungan GERD ini akan menjadi Pembangkit listrik Tenaga Air “PLTA” terbesar di Afrika dan salah satu terbesar yang ada di dunia. “GERD tidak mengonsumsi banyak air,  sehingga tidak akan membahayakan negara-negara hilir, tidak ada deforestasi,” jelas kata Dubes Admasu saat tanggal Jumat, 03 Juli 2020 melalui konferensi video.