Mengharuskan Pembelajaran Bahasa China Untuk Pelajar Mesir Sebelum Masuk Dunia Perkuliahan


Telah adanya sebuah perjanjian kerja sama yang telah disepakati oleh pemerintahan negara Mesir dengan negara China. Dimana perjanjian kerja sama ini sendiri berisikan tentang pernyataan yang mengharuskan pembelajaran bahasa Mandarin untuk menjadi bahasa opsional kedua di sekolah sekolah pra universitas yang ada di negara tersebut. Pada hari Kamis, 10 September 2020, dimana seperti yang dilansir oleh Middle East Monitor yang menyatakan bahwa perjanjian tersebut telah ditandatangani dan disepakati di Kairo oleh Menteri pendidikan dan pendidikan Teknik Mesir, Tarek Shawki, dan Duta Besar China untuk Mesir, yaitu Liao Liqiang.

Shawki mengutarakan sebuah pernyataan dalam upacara penandatanganan tersebut mengenai ”Mesir sangat ingin mendapatkan keuntungan dari pengalaman unik negara China dalam pembangunan ekonomi serta bidang lainnya” ucapnya yang ia sampaikan. Dia juga telah menambahkan sebuah pernyataan, dimana bahwa hubungan negara China sangat mengakar, karena negara Mesir merupakan negara Arab dan Afrika pertama yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara komunis yang ada di tahun 1956.

Kesepatakatan ini sendiri dibaut hari ini mewakili sebuah gambaran yang mencerahkan dari hubungan yang berbeda serta bermanfaat antara kedua negara sahabat tersebut. Dimana kami juga selalu mengupayakan untuk memperkuat dan mendukung segala cara dalam mencapai berbagai tujuan yang kita inginkan, ucap dari pada Shawki.

Xinhua merupakan salah satu kantor di berita China sendiri melaporkan bahwa negara China ini mendukung berbagai program kementerian yang ada di beberapa bidang yang ada, begitupun termasuk dalam membangun pembangkit listrik tenaga surya yang ada di sekolah, lokakartya untuk pendidikan teknis, serta memperbaharui berbagai teknologi pendidikan yang ada di sekolah menengah di seluruh negara Mesir. Tidak hanya itu saja, terapat juga dua konfusius di negara Mesir yang berada di Universitas Kairo dan berada di universitas Terusan Suez. Dimana bersama dengan tiga institur independen lainnya.

Di negara Mesir sendiri telah ada sebanyak 16 universitas di mesir yang telah mendirikan sebuah sekolah yang berjurusan bahasa Mandarin atau memasukkan bahasa Mandarin ke dalam kurikulum ajaran mereka.

Tidak hanya itu saja, dimana China membuka beberapa pendidikan yang ada di dunia luar serta memfasilitasi pertukaran pelajar antara kedua negara tersebut. Hal ini disampaikan oleh Liqiang yang menyatakan “lebih jauh, negara China akan membuka pendidikan ke dunia luar untuk serta memfasilitasi pertukaran pelajar antar kedua negara dan membuka jalan untuk membangun komunitas China – Mesir dengan masa depan bersama”.

“Kami sendiri bersedia bekerja sama dengan negara Mesir untuk selangkah demi selangkah menerapkan perjanjian tersebut dan memperkuat kerja sama dalam meningkatkan kemahiran guru, serta memperkaya materi pengajaran dalam bahasa Mandarin dan juga mengoptimalkan metode pengajaran, dan menyusun silabus” ucapnya yang ia sampaikan.

Perjanjian ini sendiri telah ditandatangani dan disepakati di tengah hubungan ekonomi yang sedang berkembang antara negara Mesir dengan China. Bahkan menurut Menteri Perdagangan dan Industri Mesir, Navine Gamea mengenai sebuah perdangan kedua negara ini sendiri mampu mencapai hingga US $5.2 miliar atau setara dengan sebesar 77 triliun rupiah selama tujuh bulan pertama  tahun ini.

Terdapat juga seorang sumber senior yang menyatakan bahwa konsorsium mesir dan China akan memenangkan tawaran untuk membangun berbagai kereta api listrik yang berkecepatan tinggi pertama di negara Mesir. Dimana pembangunan tersebut memiliki biasa sebesar US $9 miliar atau setara dengan 133 triliun rupiah yang telah dilaporkan akan menghubungkan antara laut merah dengan Mediterania hanya dalam waktu 3 jam perjalanan saja.